Sabtu, 29 Oktober 2011 | By: bahasaku

hikayat si miskin


HIKAYAT SI MISKIN
Karena sumpah Batara Indera, seorang raja keinderaan beserta permaisurinya bibuang dari keinderaan sehingga sengsara hidupnya. Itulah sebabnya kemudian ia dikenal sebagai si Miskin. Si Miskin laki-bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing itu berjalan mencari rezeki berkeliling di Negeri Antah Berantah di bawah pemerintahan Maharaja Indera Dewa. Ke mana mereka pergi selalu diburu dan diusir oleh penduduk secara beramai-ramai dengan disertai penganiayaan sehingga bengkak-bengkak dan berdarah-darah tubuhnya. Sepanjang perjalanan menangislah si Miskin berdua itu dengan sangat lapar dan dahaganya. Waktu malam tidur di hutan, siangnya berjalan mencari rezeki. Demikian seterusnya.

Ketika isterinya mengandung tiga bulan, ia menginginkan makan mangga yang ada di taman raja. Si Miskin menyatakan keberatannya untuk menuruti keinginan isterinya itu, tetapi istri itu makin menjadi-jadi menangisnya. Maka berkatalah si Miskin, “Diamlah. Tuan jangan menangis. Biar Kakanda pergi mencari buah mempelam itu. Jikalau dapat, Kakanda berikan kepada tuan.” Si Miskin pergi ke pasar, pulangnya membawa mempelam dan makanan-makanan yang lain. Setelah ditolak oleh isterinya, dengan hati yang sebal dan penuh ketakutan, pergilah si Miskin menghadap raja memohon mempelam. Setelah diperolehnya setangkai mangga, pulanglah ia segera. Isterinya menyambut dengan tertawa-tawa dan terus dimakannya mangga itu.

Putri Ulin

PUTRI ULIN
dahulu, waktu masih ada ayah dan ibunya,di rumah itu ramai sekali penuh dengan kebahagiaan meskipun ekonomi mereka serba kekurangan mereka hanya mengandalkan tumbuhan di sekitar rumah mereka seperti ubi singkong dll. Tetapi sejak kematian ayah dan ibunya ia sangat sedih dan terus menangis tanpa henti. Setiap harinya ia tidak pernah tersenyum yang ada hanyalah kesediahan di wajahnya, dan rumah itu pun kini sepi seperti tak ada penghuninya karena di rumah itu hanyalah ada seorang putri yang bernama putri ulin , beruntung ada nenek tua yang tinggal disebelah rumah nya yang baik hati. Nenek itu tinggal sendirian di sebuah gubuk tua . nenek itu merasa kasihan pada si ulin ,masih kecil sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Lalu ia menetapkan  tinggal bersama putri ulin untuk menemani putri ulin .
Nenek itu mencoba untuk menghibur putri ulin agar tidak bersedih hati terus menerus, tapi putri ulin tetap bersedih hati dan mengingat terus ayah dan ibunya. dengan sabar dan penuh kasih sayang nenek itu tetap mencoba menghibur putri ulin untuk tidak bersedih hati, akhirnya nenek itu pun berhasil membuat putri ulin tertawa lagi dan tersenyum.
kini kebahagiaan yang dulu pernah hilang kini muncul kembali yakni kebahagiaan antara putri ulin dan nenek tua itu, nenek tua itu mendidik ulin dengan baik dan menganggap ulin seperti anaknya sendiri, Setiap hari mereka memakan makanan seperti ubi dan singkong .



Sekilas Puisi Baru

Berdasarkan jumlah baris dalam kalimat pada setiap baitnya, puisi baru dibagi dalam beberapa bentuk puisi, yaitu:
1. Distikon
Sajak yang berisi dua baris kalimat dalam setiap baitnya, bersajak a-a.
Contoh:
Baju berpuput alun digulung
Banyu direbus buih di bubung
Selat Malaka ombaknya memecah
Pukul memukul belah-membelah
Bahtera ditepuk buritan dilanda
Penjajah diantuk haluan diunda
Camar terbang riuh suara
Alkamar hilang menyelam segara
Armada peringgi lari bersusun
Malaka negeri hendak diruntun
Galyas dan pusta tinggi dan kukuh
Pantas dan angkara ranggi dan angkuh
Amir Hamzah )